Google

Startup

Selamat datang di webnya insinyur agak-agak tuli.
Terima kasih banyak Anda telah meluangkan waktu untuk berkunjung.

Rotating Engineer adalah titel profesi seorang insinyur teknik mesin dengan spesialisasi keahlian di bidang mesin-mesin berputar, misalnya turbin gas, kompresor sentrifugal, pompa sentrifugal, screw compressor, reciprocating engine, dan fin fan cooler. Seorang Rotating Engineer bertanggung jawab untuk membuat agar mesin-mesin itu dapat beroperasi dengan baik dan benar.

Blog ini berisi hal-hal yang berkaitan dengan profesi seorang Rotating Engineer. Isinya diambil dari pengalaman sehari-hari, berbagai sumber referensi, dan opini pribadi saya. Topik-topiknya dapat dilihat dengan meng-klik nama bulan yang ada di kotak "ARTIKEL" di sebelah kiri.

Diharapkan dari blog ini pembaca dapat mengambil manfaat yang sebanyak-banyaknya. Pertanyaan, diskusi, dan saran sangat saya harapkan. Bisa kontak ke saya di: rotatingengineer@gmail.com.

DISCLAIMER
Saya tidak bertanggung jawab atas segala akibat yang terjadi karena blog ini. Blog ini hanya berisi opini dan pengalaman pribadi saya saja.

Sekali lagi: terima kasih banyak.
wasalam


Selasa, 25 Desember 2007

Mau pilih g peak atau g rms?

Pada pengukuran vibrasi dengan tipe acceleration satuan yang dipakai adalah g's. Tetapi kadang kita dibingungkan untuk memilih g's peak atau g's rms. Sebenarnya tidak usah bingung. Kita kembalikan saja ke tujuan semula pengukuran vibrasi dengan satuan atau tipe accelleration ini, yaitu untuk mengukur force, terutama impact atau impulse force. Pada impact/impulse force gaya yang bekerja adalah tipe tumbukan-tumbukan metal-to metal contact yang terjadi dalam waktu yang sangat singkat dan yang terpenting adalah seberapa sering dan seberapa tinggi intensitasnya (besarnya amplitudo). Oleh karena itulah yang kita cari dan perlu kita perhatikan adalah besarnya peak dari gaya impact itu. Makanya sebaiknya untuk pengukuran impact atau impulse force pilihlah g's peak. Misalnya pada pengukuran gearbox.

Dasar utama pemilihan index pengukuran vibrasi (peak atau rms) untuk velocity dan acceleration adalah setting alarm dan S/D yang telah ditetapkan oleh manufacturer mesin atau standard yang lebih baik dari ketetapan pembuat mesin itu. Misalnya: pembuat mesin telah menetapkan setting alarm dan S/D berturut-turut adalah 0.8 ips peak dan 1.0 ips peak. Kita harus mengetahui “peak” yang dimaksud oleh manufacturer mesin, apakah true peak atau derived peak. Jika manufacturer menetapkan nilai “peak” ini adalah true peak maka alat monitor dan proteksi vibrasi mesin kita harus menggunakan rangkaian vibrasi true peak. Jika kita menggunakan rangkaian true rms, maka peak yang didapat adalah derived peak yaitu = rms x 1.404. Ini mengandung kelemahan yaitu langsung mengalikan ini hanya sahih untuk sinyal vibrasi yang sinusoidal. Untuk sinyal vibrasi selain itu akan menimbulkan pembacaan yang “lebih kecil”. Rangkaian true rms tidak sensitif terhadap sinyal-sinyal impuls “peak” yang terjadi dalam rentang waktu sangat singkat. Ini mengakibatkan pembacaan derived peak untuk setting proteksi true peak bisa menyebabkan kekeliruan pembacaan “kerusakan yang mendadak”. Hal ini dikarenakan pembacaan vibrasi yang tercatat lebih kecil dari vibrasi yang sebenarnya terjadi di mesin. Sebaliknya akan terjadi alarm atau S/D yang tidak semestinya terjadi jika setting yang diminta oleh manufacturer mesin adalah “derived peak” ataupun “true rms” namun menggunakan instrumentasi rangkaian “true peak”.

Jadi ketahuilah terlebih dulu apa yang diinginkan oleh pembuat mesin.

True peak sensitif terhadap sinyal-sinyal vibrasi yang bersifat impuls, sedangkan rms berfungsi untuk mengukur besaran energi yang dikandung oleh suatu sinyal vibrasi (luas area di bawah kurva gelombang)..


terima kasih.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

why?