Google

Startup

Selamat datang di webnya insinyur agak-agak tuli.
Terima kasih banyak Anda telah meluangkan waktu untuk berkunjung.

Rotating Engineer adalah titel profesi seorang insinyur teknik mesin dengan spesialisasi keahlian di bidang mesin-mesin berputar, misalnya turbin gas, kompresor sentrifugal, pompa sentrifugal, screw compressor, reciprocating engine, dan fin fan cooler. Seorang Rotating Engineer bertanggung jawab untuk membuat agar mesin-mesin itu dapat beroperasi dengan baik dan benar.

Blog ini berisi hal-hal yang berkaitan dengan profesi seorang Rotating Engineer. Isinya diambil dari pengalaman sehari-hari, berbagai sumber referensi, dan opini pribadi saya. Topik-topiknya dapat dilihat dengan meng-klik nama bulan yang ada di kotak "ARTIKEL" di sebelah kiri.

Diharapkan dari blog ini pembaca dapat mengambil manfaat yang sebanyak-banyaknya. Pertanyaan, diskusi, dan saran sangat saya harapkan. Bisa kontak ke saya di: rotatingengineer@gmail.com.

DISCLAIMER
Saya tidak bertanggung jawab atas segala akibat yang terjadi karena blog ini. Blog ini hanya berisi opini dan pengalaman pribadi saya saja.

Sekali lagi: terima kasih banyak.
wasalam


Kamis, 07 Februari 2008

Pengalaman (memang) Mahal Harganya….

Ternyata ilmu dan pengalaman itu memang benar mahal harganya. Bermula dari mesin mobil yang seing mati jika dari kecepatan tinggi pindah persneling ke posisi netral. Misalnya, saat berjalan dengan gigi 3 kemudian ada tikungan belok kiri atau kanan saya sering posisikan gigi balik ke netral, nah saat telah balik ke netral itu mesin kok sering tiba-tiba mati. Bayangkankan, repot jadinya jika lalu lintas pas ramai kemudian kita start-start engine karena tiba-tiba mati.


Saya coba selesaikan dengan cara symptomp based troubleshooting. Idle screw dan power screw carburator serta setelan gas saya coba setel-setel. Dibuat rpm jadi lebih tinggi dari sebelumnya. Namun, masih gagal.
Saya coba bawa ke bengkel, bocor katanya gasket intake manifold. OK lah saya pikir sekalian benerin gasket exhaust dan lubang-lubang baut yang mulai dol di manifold. Juga kata bengkel distributor nya kotor. Dibersihkan. Setelah semua selesai bayar 450an ribu perak. Mesin jadi halus. Namun, problem awal tetap tidak terpecahkan, mesin masih sering mati saat netral.
Analisa pindah ke saringan bensin, jangan-jangan kotor. Ganti. Tetap tidak menyelesaikan masalah.


Karburator saya pikir kotor. Bongkar sendiri, bersihkan sendiri. Beli karburator kit. 53rb perak. Rendam pake minyak tanah dalam kaleng semalaman. Pasang lagi rapi-rapi. Gagal juga.
Ganti karbuator saja. Beli karburator kelas dua baru. 470rb perak. Mungkin akan menyelesaikan masalah karena saya punya kelihatannya sudah bulukan dan siapa tahu saya menyervisnya kemaren kurang baik, maklum baru belajar. Sekalian sama pompa bensin yang asli kyoshan punya toyota kijang. 270rb perak. Karena saya tidak ada dengar bunyi klik-klik dan saya pencet-pencet tuasnya tidak nyedot dan ndorong dari tubing inlet dan dischargenya. Gagal. Saya sumbat lubang di gasket tatakan (30 ribu perak), agak baikan. Namun tetap gagal. Saya cabut gasket tatakan, halus namun mesin tetap mati jika setelahj run 2 menit. Bunyi mesin pincang/sinjal. Wah, mungkin pengapian salah nih, saya coba ubah-ubah urutan pengapian busi, eh malah meledak-ledak. Tahu-tahu saya salah asumsi, saya pikir putaran distributor berlawanan arah jarum jam, eh ternyata setelah saya buka distributor cap-nya, kepala distributornya ternyata mutarnya searah jarum jam pas saya putar pakai kunci ring pulley timingnya. Oooh pantesan meledak-ledak. Jadi, urutan 1-3-4-2 sudah saya dapat dengan membuat TDC silinder 1, yaitu pas klep intake dan exhaust pas nutup (posisi spring valve/klep pada posisi extension) dan tanda strip (-) di timing pulley pas posisi 0o. Namun, tetap pincang juga bunyi mesin, kemungkinan busi ada yang jelek. Saya ganti dengan busi baru merek Bosch W8DC 4 biji ditebus dengan harga 49500 perak. Namun.. masih pincang juga.


Saya lihat aliran bensin di saringan bensin banyak gelembung udara, dan bunyi mesin pincang seirama dengan banyaknya gelembung udara itu. Saya buka, muncrat bensin hitam dan di dalam filternya sumbat. Agar tidak cepat sumbat filternya maka saya ganti dengan fuel filter yang lebih besar punya suzuki vitara/escudo/sidekick harga 10 ribu perak. Di samping lebih besar kebetulan posisi inlet dan outlet filternya posisinya bagus, 180o sehingga selang bensin tidak melintir-melintir.








Kalau yang sebelumnya yang punya kijang posisi inlet dan outletnya 90o sehingga selang bensin agak melintir. Setelah dipasang, alhamdulillah mesin tidak mati lagi setelah run 2 menitan.


Kyosan filter (punya kijang, yang lama)










Tetapi tetap sedikit pincang bunyinya dan masih tetap mati kalau dipindah persneling ke netral. Saya coba atur timing dengan mengendorkan baut distributor, idle speed sudah disetel dengan memutar power dan idle screw. Saya coba puter ke advance (kalau distributer mutar searah jarum jam, maka untuk membuat advance kita harus memutarnya berlawanan jarum jam), wah memang benar ternyata saat saya putar, speed engine makin naik artinya timing sebelumnya tidak tepat. Saya ambil posisi yang mengakibatkan idle speed paling tinggi. Setelah itu baut distributor dikencangkan.
Baru setelah timing dikoreksi sedikit, bunyi mesin jadi halus, tidak mati saat netral, dan tidak mati setelah run 2 menitan.


Namun, ada PR yang musti saya harus lakukan yaitu mencuci tangki bensin agar bersih dari kerak-kerak karat, endapan air, dan kotoran lainnya.


Ternyata ilmu dan penglaman itu memang mahal nilainya, saya harus keluar uang buat beli karburator, pompa bensin, busi yang memang seharusnya belum perlu diganti serta waktu dan tenaga���������..


3 komentar:

Dirman Arya Tajimalela mengatakan...

nasib anda sama dengan saya heheheh

Unknown mengatakan...

Itu belum seberapa. Banyak yg lebih sial. Tapi benar sih. Memang mahal

Unknown mengatakan...

Itu belum seberapa. Tapi benar sih. Memang mahal